Keterbatasan Infrastruktur Menjadi Kendala Pengelolaan Kekayaan Gas RI
Berita Industri - Indonesia memiliki potensi besar sumber daya alam, termasuk gas bumi, namun pemanfaatannya dinilai belum optimal bagi masyarakat karena keterbatasan infrastruktur energi yang memadai. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menyoroti bahwa kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, dengan sebagian besar gas berada di lepas pantai (offshore), menjadi tantangan mendasar.
Hal tersebut berbeda dengan negara-negara Eropa seperti Jerman dan Rusia yang dapat memasok gas melalui jaringan pipa besar. Di Indonesia, gas seringkali harus melalui proses pencairan menjadi LNG, diangkut, dan digasifikasi kembali, yang semuanya menambah biaya dan mengurangi efisiensi pemanfaatan.
Untuk mengatasi masalah ini dan mewujudkan kemandirian energi serta pemerataan akses, diperlukan percepatan pembangunan infrastruktur yang lebih merata. Meskipun perusahaan swasta nasional dinilai sudah andal dalam membangun infrastruktur energi, peran mereka perlu didukung oleh kebijakan dan pembangunan infrastruktur yang lebih terintegrasi dari pemerintah pusat hingga daerah. Sugeng Suparwoto menegaskan perlunya percepatan pembangunan jaringan pipa gas nasional untuk menyalurkan gas dari wilayah kaya sumber daya ke pusat-pusat permintaan secara lebih mudah dan efisien.
Pembangunan jaringan pipa nasional seperti CISEM (Cirebon-Semarang) dan kelanjutan Dumai-Sei Mangkei dinilai krusial. Jika proyek-proyek ini tuntas, jaringan pipa gas akan tersambung dari Aceh hingga Surabaya. Langkah ini menjadi solusi strategis agar kekayaan gas alam Indonesia tidak hanya tersimpan di perut bumi, tetapi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan energi domestik dan mendorong pemerataan.
Sebagai informasi tambahan, potensi sumber daya migas Indonesia tergolong besar. Berdasarkan buku saku Kementerian ESDM Mei 2025, cadangan gas bumi Indonesia tercatat sebesar $51,98$ triliun kaki kubik (TCF), dan cadangan minyak sebesar $4,31$ miliar barel. Hingga semester I 2025, lifting (produksi terangkut) gas nasional mencapai $5.483$ juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan lifting minyak mencapai $578$ ribu barel per hari (bph). Total lifting migas tercatat sebesar $1,55$ juta barel setara minyak per hari (BOEPD), mendekati target yang ditetapkan dalam APBN 2025.
Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/news/20251111135259-4-684232/ri-kaya-gas-tapi-sayang-infrastruktur-terbatas









